Skip to content

My Blog

My WordPress Blog

Menu
  • Sample Page
Menu
Faktor yang menyebabkan pelet berjamur

Teknik Pengeringan Pelet yang Benar agar Tidak Cepat Jamuran

Posted on December 4, 2025

Proses Pengeringan Pelet yang Tepat agar Kualitas Pakan Tetap Terjaga

Faktor yang menyebabkan pelet berjamur

Pakan merupakan elemen paling krusial dalam budidaya ikan. Kualitas pakan menentukan pertumbuhan, kesehatan, hingga efisiensi biaya operasional. Salah satu masalah yang sering mengganggu kualitas pakan adalah pelet yang cepat berjamur. Jamur bukan hanya merusak nilai nutrisi, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit, menurunkan nafsu makan, dan merugikan produktivitas budidaya.

Akar masalahnya hampir selalu sama: proses pengeringan yang tidak optimal. Saat kadar air dalam pelet terlalu tinggi, jamur tumbuh cepat, terutama dalam penyimpanan skala besar. Karena itu, pengeringan yang benar menjadi bagian penting dalam produksi pakan, baik untuk industri besar, UMKM pakan mandiri, maupun kelompok pembudidaya.

Artikel ini membahas penyebab jamur, teknik pengeringan alami maupun menggunakan mesin, kadar air ideal, serta tips penyimpanan agar pelet tetap awet dan aman.

Mengapa Pelet Harus Dikeringkan Optimal

Pengeringan bukan hanya tahap akhir produksi pakan. Tahap ini sangat menentukan kualitas jangka panjang. Tanpa pengeringan yang benar, seluruh proses produksi sebelumnya formulasi, mixing, hingga pencetakan menjadi sia-sia.

1. Pengeringan optimal mencegah tumbuhnya jamur

Jamur tumbuh cepat ketika kadar air dalam pelet melebihi 12-14% dan suhu gudang cukup lembap. Jika pelet menyimpan sisa air, jamur berkembang dalam 3-7 hari pertama penyimpanan. Banyak perusahaan pakan komersial menempatkan pengeringan sebagai prioritas karena faktor ini paling memengaruhi stabilitas produk.

2. Pelet lebih stabil di gudang

Pakan yang masih lembap mudah menggumpal, berbau asam, dan mengalami perubahan warna. Pengeringan yang baik menjaga struktur pelet tetap keras dan tidak mudah hancur saat dikemas atau ditransportasikan.

3. Pelet lebih tahan lama

Dengan kadar air rendah, umur simpan pelet bisa mencapai 3–6 bulan, bahkan lebih lama jika disimpan dalam gudang yang benar. Bagi peternak skala besar, stabilitas ini penting untuk menjaga stok jangka panjang.

4. Nutrisi tetap utuh

Kelembapan berlebih memicu reaksi kimia yang merusak protein dan lemak. Pengeringan optimal membantu mempertahankan nilai nutrisi pakan.

5. Meningkatkan efisiensi produksi

Produsen pakan sering menanggung kerugian karena pakan rusak atau dikembalikan konsumen. Dengan fokus pada pengeringan, risiko ini dapat ditekan hingga hampir nol.

Faktor yang Menyebabkan Pelet Berjamur

Pelet berjamur bukan hanya karena kelembapan tinggi. Masalah ini terjadi akibat kombinasi beberapa faktor. Memahami penyebabnya memudahkan perusahaan memperbaiki SOP produksi.

1. Kadar air bahan baku terlalu tinggi

Bahan baku seperti dedak, jagung giling, dan bungkil kedelai sering memiliki kadar air di atas standar. Jika bahan ini masuk langsung ke proses tanpa dikeringkan, pelet menjadi lembap sejak awal.

2. Pengeringan tidak merata

Di skala rumahan, pelet sering dijemur di bawah matahari dengan ketebalan tidak seragam. Bagian bawah tetap lembap meski permukaan tampak kering. Ketidakseimbangan ini menyebabkan jamur tumbuh dari bagian dalam pelet.

3. Suhu penyimpanan terlalu hangat

Ruangan panas dan kurang ventilasi mempercepat kondensasi. Ketika uap air menempel pada karung, jamur tumbuh di permukaan pelet.

4. Lingkungan gudang lembap

Kelembapan di atas 70% berisiko membuat pelet cepat rusak. Gudang harus tetap kering meski musim hujan.

5. Kemasan tidak kedap

Karung yang tidak tahan lembap sering menyerap air dari lingkungan sekitar. Polietilen lebih tahan dibanding karung kain biasa.

6. Kontaminasi jamur saat proses produksi

Meja produksi, mixer, atau alas pengering yang jarang dibersihkan dapat mengandung spora jamur. Saat pelet menyentuh permukaan tersebut, kontaminasi terjadi.

7. Proses pendinginan tidak dilakukan

Banyak produsen pelet langsung mengemas pakan yang baru keluar dari extruder. Padahal, pakan yang masih panas menghasilkan uap air yang terperangkap di dalam kemasan dan memicu jamur.

Metode Pengeringan Alami & Mesin Dryer

Pengeringan dapat dilakukan dengan dua metode utama: alami (sun drying) dan mekanis (dryer). Keduanya memiliki kelebihan masing-masing.

1. Pengeringan alami (sun drying)

Metode ini paling umum digunakan oleh petani, kelompok pembudidaya kecil, atau produsen pakan rumahan.

Kelebihan:

  • Biaya sangat rendah
  • Tidak membutuhkan mesin
  • Mudah diterapkan

Kekurangan:

  • Bergantung pada cuaca
  • Pengeringan tidak seragam
  • Risiko debu, serangga, dan kontaminasi
  • Waktu lebih lama

Teknik pengeringan alami yang benar:

  • Hamparkan pelet di atas terpal yang bersih
  • Ketebalan ideal: 2-3 cm
  • Aduk setiap 20-30 menit agar merata
  • Hindari pengeringan di jalan raya atau area berdebu
  • Gunakan penutup transparan jika cuaca mendung
  • Pastikan tidak ada benda basah di sekitar lokasi pengeringan

Dalam kondisi matahari penuh, pelet biasanya kering dalam 4-6 jam.

2. Pengeringan menggunakan mesin dryer

Metode ini direkomendasikan untuk produksi skala menengah hingga industri besar karena lebih stabil dan terkontrol.

Jenis mesin dryer:

  • Cabinet dryer: untuk kapasitas 200-800 kg per batch
  • Rotary dryer: untuk kapasitas >1 ton
  • Fluidized bed dryer: hasil paling merata dan cepat
  • Tunnel dryer: ideal untuk pabrik besar

Kelebihan:

  • Pengeringan cepat dan seragam
  • Tidak bergantung cuaca
  • Kontaminasi sangat minim
  • Bisa mengontrol suhu dan kelembapan
  • Cocok untuk produksi massal

Parameter teknis:

  • Suhu pengeringan: 50-60°C
  • Lama pengeringan: 1-2 jam bergantung volume
  • Kadar air maksimal sebelum keluar dryer: 10-12%

Teknik operasional:

  • Masukkan pelet dalam tray dengan ketebalan sama
  • Jangan menumpuk terlalu tebal
  • Sesuaikan sirkulasi udara agar merata
  • Lakukan pendinginan setelah keluar dari dryer
  • Lakukan QC kadar air pada setiap batch

Dryer menjadi investasi krusial bagi perusahaan pakan mandiri karena memastikan kualitas konsisten sepanjang tahun.

Kadar Air Ideal dalam Pelet

Kadar air menentukan umur simpan dan kualitas pakan. Berikut penjelasan detail yang wajib dipahami produk pakan skala besar.

1. Kadar air bahan baku

Bahan baku yang aman untuk produksi:

  • Tepung ikan: <10%
  • Dedak: <12%
  • Tepung kedelai: <10%
  • Jagung giling: <12%
  • Premix: <5%

Jika lebih tinggi, bahan harus dikeringkan dulu atau disimpan sebelum diproses.

2. Kadar air pelet saat keluar extruder

Pelet yang baru dicetak biasanya memiliki kadar air 18-25%. Pelet sangat lembap, lunak, dan mudah rusak sehingga harus segera dikeringkan.

3. Kadar air setelah pengeringan

Kadar air ideal untuk penyimpanan:

  • 8-12% untuk pakan ikan air tawar
  • 10-12% untuk pelet dengan kandungan minyak tinggi

Standar ini sesuai rekomendasi SNI 01-7246-2014 dan FAO.

4. Dampak jika kadar air terlalu tinggi

  • Jamur tumbuh cepat
  • Pelet rapuh
  • Bau asam atau tengik
  • Nutrisi rusak
  • Ikan menurun nafsu makan
  • Kerugian stok pada gudang

5. Dampak jika kadar air terlalu rendah

Meski jarang terjadi, kadar air terlalu rendah membuat pelet mudah pecah saat pengemasan. Karena itu, kadar air seimbang menjadi kunci kualitas pakan jangka panjang.

Tips Penyimpanan dan Pengepakan

Pengeringan yang benar harus diikuti penyimpanan yang tepat. Bahkan pelet berkualitas tinggi tetap bisa berjamur jika gudang tidak memenuhi syarat.

1. Gunakan kemasan yang tahan lembap

Kemasan terbaik untuk pelet skala besar:

  • Karung laminasi PP 20-25 kg
  • Kantong plastik dalam (inner) sebagai pelapis
  • Seal rapat agar tidak ada udara lembap masuk

Produsen besar biasanya menambahkan kode produksi (batch code) untuk memudahkan pelacakan.

2. Simpan di gudang yang kering dan berventilasi baik

Gudang harus memiliki:

  • Ventilasi silang
  • Kelembapan <70%
  • Suhu <30°C
  • Sirkulasi udara stabil
  • Tidak bocor
  • Tidak bersentuhan langsung dengan tanah

Pakan sebaiknya ditata di atas pallet kayu setinggi 10-15 cm dari lantai.

3. Terapkan sistem FIFO (First In First Out)

Pakan yang masuk lebih dulu harus digunakan lebih dulu untuk mencegah stok lama menumpuk.

4. Hindari kontak dengan dinding

Dinding sering menyimpan uap air. Sisakan ruang 20-30 cm agar kelembapan tidak mengenai karung.

5. Lakukan kontrol rutin

Setiap minggu lakukan pemeriksaan:

  • Kondisi karung
  • Bau pakan
  • Warna dan tekstur
  • Tanda jamur
  • Tingkat serangga

QC sederhana ini mencegah kerusakan dalam jumlah besar.

6. Pastikan pendinginan sebelum pengemasan

Pelet panas menghasilkan kondensasi dalam karung. Proses pendinginan 15-20 menit wajib dilakukan sebelum masuk ke mesin pengemas.

7. Gunakan desiccant untuk gudang besar

Desiccant membantu menyerap kelembapan, terutama saat musim hujan. Pabrik besar biasanya menggunakannya untuk menjaga stabilitas gudang.

Kesimpulan

Pengeringan yang benar memegang peran besar dalam menjaga kualitas pelet. Dengan memahami penyebab jamur, menerapkan teknik pengeringan yang tepat baik alami maupun menggunakan dryer serta menjaga kadar air sesuai standar SNI, perusahaan dapat menghasilkan pelet yang tahan lama, higienis, dan bernilai nutrisi tinggi.

Penyimpanan yang benar melengkapi seluruh proses produksi. Ketika semua langkah ini dijalankan, pelet tetap stabil selama berbulan-bulan dan risiko kerusakan dapat ditekan hingga minimal.

Produksi pakan mandiri bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi juga kualitas. Pengeringan yang benar memastikan pakan tidak hanya tahan lama, tetapi juga aman untuk ikan dan menguntungkan perusahaan.

Ingin meningkatkan kualitas pakan ikan dan hasil panen Anda? Klik tautan ini untuk melihat jadwal terbaru dan penawaran spesial, serta pelajari cara membuat pakan ikan mandiri yang hemat dan berkualitas tinggi!

Referensi

  1. SNI 01-7246-2014 – Standar Nasional Indonesia: Pakan Ikan.
  2. FAO. (2020). Aquafeed Production and Quality Management.
  3. Tacon, A. G. J. (2019). Fish Nutrition and Feed Technology.
  4. Boyd, C.E. (2018). Aquaculture Production Systems. Wiley-Blackwell.
  5. KKP RI. (2021). Pedoman Pakan Mandiri untuk Perikanan Budidaya.
  6. BRPBAT (2022). Laporan Riset Pengeringan dan Stabilisasi Pakan Ikan.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Panduan Lengkap Pembuatan Pakan Ikan Lele dengan Hasil Panen Lebih Cepat
  • Cara Menyusun Komposisi Pakan Ikan untuk Pertumbuhan Maksimal
  • Pakan Ikan Organik: Lebih Sehat, Lebih Untung?
  • Tips Menentukan Kandungan Protein Ideal dalam Pakan Ikan
  • Step-by-Step Cara Membuat Pakan Ikan Pelet Rumahan Anti Gagal

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!

Archives

  • December 2025
  • November 2025

Categories

  • pakan ikan
  • pelatihan
  • pembuatan pakan ikan
  • soft skill
  • strategi
  • training
  • Uncategorized
©2026 My Blog | Design: Newspaperly WordPress Theme