Skip to content

My Blog

My WordPress Blog

Menu
  • Sample Page
Menu
Kelebihan ampas tahu sebagai bahan pakan

Pakan Ikan dari Ampas Tahu? Begini Cara Membuatnya Lebih Bergizi

Posted on December 6, 2025

Ampas Tahu sebagai Pakan Ikan: Solusi Protein Murah untuk Akuakultur

Kelebihan ampas tahu sebagai bahan pakan

Pemilik usaha budidaya ikan semakin tertarik memanfaatkan ampas tahu sebagai bahan baku pakan alternatif. Alasannya sederhana: bahan ini murah, mudah didapat, dan tersedia melimpah sepanjang tahun. Namun, penggunaan ampas tahu tidak bisa asal campur. Dibutuhkan proses pengolahan yang benar agar nutrisi meningkat, daya cerna optimal, dan pakan aman untuk disimpan dalam jangka panjang.

Artikel ini akan membahas secara lengkap:

  • Kelebihan ampas tahu sebagai bahan pakan ikan
  • Proses pengolahan, pengeringan, dan peningkatan kualitas nutrisi
  • Cara fortifikasi protein, vitamin, dan mineral
  • Formulasi ampas tahu menjadi pelet
  • Keamanan penggunaan dan batas pemberian

Panduan ini cocok untuk UMKM, koperasi, maupun farm budidaya skala besar yang ingin menurunkan biaya pakan tanpa menurunkan kualitas pertumbuhan ikan.

Kelebihan Ampas Tahu sebagai Bahan Pakan

Ampas tahu sudah lama digunakan sebagai bahan pakan ternak, termasuk ikan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa bahan ini memiliki nilai gizi yang cukup baik dan bisa ditingkatkan kualitasnya melalui pengolahan.

1. Nutrisi Dasar yang Cukup Tinggi

Ampas tahu mengandung:

  • Protein kasar: 20-27%
  • Serat kasar: 15-20%
  • Lemak: 6-8%
  • Energi metabolik: cukup untuk ikan herbivora dan omnivora

Menurut penelitian Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT), ampas tahu berpotensi menggantikan 20-40% pakan komersial jika diformulasi dengan tepat.

2. Harga Rendah dan Stabil

Harga ampas tahu biasanya berada pada kisaran Rp 500-1.000/kg (basah). Setelah dikeringkan, biaya produksi masih lebih murah dibanding tepung ikan, bungkil kedelai, dan bahkan dedak.

Ini sangat membantu farm yang mengeluarkan biaya pakan hingga 60-70% dari total operasional.

3. Mudah Diolah Menjadi Tepung atau Pelet

Teksturnya lembut dan mudah menyatu dengan bahan lain, sehingga cocok digunakan sebagai:

  • Bahan pengisi (filler)
  • Sumber protein nabati
  • Pengganti sebagian karbohidrat

4. Aman dan Ramah Lingkungan

Ampas tahu termasuk limbah agroindustri yang jumlahnya sangat besar. Pemanfaatannya membantu:

  • Mengurangi limbah pabrik tahu
  • Menghasilkan produk pakan yang lebih berkelanjutan
  • Menekan ketergantungan impor bahan pakan

Proses Pengolahan dan Pengeringan

Ampas tahu segar memiliki kelemahan utama: kadar air sangat tinggi (70-85%), sehingga mudah membusuk dan cepat ditumbuhi jamur jika tidak segera diolah.

Karena itu, proses pengolahan harus fokus pada:

  • Mengurangi kadar air
  • Menghilangkan bau asam
  • Meningkatkan daya simpan
  • Menstabilkan nutrisi

1. Tahap Pemerasan

Langkah pertama adalah menurunkan kadar air dengan cara memeras. Bisa menggunakan:

  • Kain saring
  • Alat press manual
  • Press hidrolik untuk skala besar

Hasil terbaik dicapai jika kadar air turun menjadi 50-60% sebelum masuk tahap pengeringan.

2. Pengukusan (Opsional namun direkomendasikan)

Mengukus ampas tahu selama 15-20 menit bermanfaat untuk:

  • Membunuh bakteri kontaminan
  • Mengurangi bau asam
  • Memecah protein agar lebih mudah dicerna ikan

Penelitian Fakultas Perikanan IPB menunjukkan pengukusan meningkatkan nilai cerna bahan baku nabati hingga 15-20%.

3. Pengeringan Hingga Kadar Air 10-12%

Ini bagian yang paling penting.

Metode pengeringan yang bisa digunakan:

a. Jemur Matahari

Cocok untuk UMKM dan petani kecil.

Kelebihan:

  • Tidak ada biaya energi
  • Mudah dilakukan

Kekurangan:

  • Waktu lama (1-2 hari)
  • Bergantung cuaca
  • Risiko kontaminasi debu

Ampas harus dihamparkan tipis (1-2 cm) agar cepat kering.

b. Oven atau Mesin Dryer

Cocok untuk pabrik atau farm skala besar.

Pengaturan suhu ideal:

  • 60-70°C selama 3-5 jam (pengeringan merata)
  • Hindari suhu >80°C karena protein bisa rusak

Mesin dryer menjaga higienitas sehingga daya simpan lebih panjang.

4. Penggilingan

Setelah kering, ampas tahu digiling hingga menjadi tepung halus.

Kehalusan ideal: 80-100 mesh untuk pakan ikan.

5. Penyimpanan Bahan Kering

Sebelum proses formulasi, tepung ampas tahu disimpan dalam:

  • Karung kedap udara
  • Drum plastik tertutup
  • Ruang kering dengan sirkulasi baik

Cara Fortifikasi Protein & Vitamin

Agar ampas tahu tidak hanya murah tetapi juga bergizi tinggi, kandungannya bisa ditingkatkan melalui beberapa teknik fortifikasi.

1. Fortifikasi Protein

Beberapa bahan murah yang bisa ditambahkan:

  • Tepung ikan 10-20%
  • Tepung darah 5-10%
  • Tepung keong mas 10-15%
  • Bungkil kedelai 10-20%

Dengan kombinasi ini, kadar protein pakan bisa meningkat dari 20-27% menjadi 28-35%.

2. Penambahan Sumber Vitamin

Ampas tahu cenderung rendah vitamin A, B12, dan mineral mikro.

Tambahan yang bisa digunakan:

  • Premix vitamin-mineral (0,5-1%)
  • Kunyit bubuk (antijamur alami)
  • Spirulina (jika ingin meningkatkan warna ikan hias)

3. Peningkatan Protein dengan Fermentasi

Fermentasi dapat meningkatkan protein kasar hingga 35-40%.

Mikroba yang bisa dipakai:

  • EM4
  • Ragi tempe
  • Bakteri lactobacillus

Cara singkat fermentasi:

  1. Campur ampas tahu + dedak + air menjadi adonan lembap.
  2. Tambahkan starter (EM4 atau ragi).
  3. Simpan dalam drum tertutup selama 2-3 hari.
  4. Keringkan kembali sampai kadar air <12%.

Fermentasi meningkatkan:

  • Protein
  • Kecernaan
  • Aromanya lebih disukai ikan

Cara Formulasi Menjadi Pelet

Setelah diolah dan difortifikasi, berikut proses formulasi menjadi pelet siap pakan.

1. Menyusun Komposisi

Contoh formula pelet berbasis ampas tahu (protein 28-32%):

  • Tepung ampas tahu: 35-40%
  • Bungkil kedelai: 15%
  • Tepung ikan: 10-15%
  • Dedak halus: 15-20%
  • Minyak ikan: 2-3%
  • Premix vitamin-mineral: 1%
  • Tapioka: 5-7% sebagai perekat

Formula ini cocok untuk:

  • Lele
  • Nila
  • Patin
  • Gurame (ukuran remaja)

2. Proses Pencampuran

Aduk semua bahan hingga merata. Tambahkan sedikit air agar adonan menyatu.

Tujuan pencampuran merata:

  • Menghindari pakan tidak stabil
  • Menjaga konsistensi nutrisi
  • Mempercepat proses pencetakan

3. Pencetakan Pelet

Menggunakan:

  • Mesin pelletizer skala kecil
  • Mesin extruder skala besar

Atur diameter pelet sesuai umur ikan:

  • 1-2 mm: benih
  • 3-4 mm: juvenil
  • 5-6 mm: induk atau ikan konsumsi

4. Pengeringan Pasca-Pencetakan

Setelah keluar dari mesin, pelet masih lembap. Pengeringan bertujuan:

  • Mencegah jamur
  • Memperpanjang daya simpan
  • Menjaga tekstur tidak mudah hancur

Pengeringan ideal hingga kadar air 10-12%.

Keamanan Penggunaan dan Batas Pemberian

Meski ampas tahu aman, penggunaannya tetap perlu pembatasan agar tidak mengganggu kesehatan ikan.

1. Batas Maksimal dalam Ransum

Rekomendasi dari beberapa penelitian:

  • Ikan nila: 20-30% dari total ransum
  • Ikan lele: 15-25%
  • Patin: 10-20%
  • Gurame: 20-30%

Penggunaan terlalu tinggi berisiko:

  • Serat kasar berlebihan
  • Kecernaan menurun
  • Pertumbuhan lambat

2. Jangan Gunakan Ampas yang Berjamur

Jamur memproduksi mikotoksin yang berbahaya dan dapat menyebabkan:

  • Pertumbuhan terhambat
  • FCR memburuk
  • Ikan mudah terserang penyakit

3. Gunakan Pengeringan dan Penyimpanan yang Tepat

Agar aman dan tahan 2-3 bulan:

  • Simpan di tempat kering
  • Hindari karung menyentuh lantai
  • Tambahkan silica gel atau daun salam jika perlu

4. Lakukan Uji Coba Bertahap

Saat mengganti pakan ke formula baru:

  • Naikkan proporsi secara bertahap 10% setiap 3-5 hari.
  • Pantau konsumsi dan respons ikan.

Ingin meningkatkan kualitas pakan ikan dan hasil panen Anda? Klik tautan ini untuk melihat jadwal terbaru dan penawaran spesial, serta pelajari cara membuat pakan ikan mandiri yang hemat dan berkualitas tinggi!

Referensi

  1. Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT). Pemanfaatan Bahan Lokal dalam Pakan Ikan.
  2. IPB University. Pengaruh Fermentasi Bahan Pakan Nabati terhadap Peningkatan Protein.
  3. KKP RI. Teknologi Pakan Mandiri untuk Budidaya Ikan.
  4. Jurnal Akuakultur Indonesia. Formulasi Pakan Berbasis Limbah Agroindustri.
  5. FAO. Alternative Protein Sources for Aquaculture Feed.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Panduan Lengkap Pembuatan Pakan Ikan Lele dengan Hasil Panen Lebih Cepat
  • Cara Menyusun Komposisi Pakan Ikan untuk Pertumbuhan Maksimal
  • Pakan Ikan Organik: Lebih Sehat, Lebih Untung?
  • Tips Menentukan Kandungan Protein Ideal dalam Pakan Ikan
  • Step-by-Step Cara Membuat Pakan Ikan Pelet Rumahan Anti Gagal

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!

Archives

  • December 2025
  • November 2025

Categories

  • pakan ikan
  • pelatihan
  • pembuatan pakan ikan
  • soft skill
  • strategi
  • training
  • Uncategorized
©2026 My Blog | Design: Newspaperly WordPress Theme